Berita

Surya Paloh, Samudera Yang Terus Bergelora

Oleh Sugeng Suparwoto

Ketua Komisi VII DPR RI


HARI ini, Jum’at 16 Juli 2021, usia Pak Surya genap 70 tahun, usia yg matang dalam arti luas, sebagaimana posisi beliau hari ini. Ia seorang pengusaha dan politisi yang sukses. Bahkan, dari cara pandang, sikap dan tindakannya, kita sepakat bahwa ia adalah seorang negarawan.

Melihat sosok Pak Surya, adalah melihat sosok manusia dengan begitu luas dimensinya. Namun jelas, ia adalah manusia berkarakter kuat. Ia bagai samudra; luas dan terus bergelora tiada henti.

Sebagaimana samudra, ia rela menerima dan menampung sungai-sungai yang mengalir dari berbagai penjuru, tak terkecuali yang penuh sampah, limbah, bahkan racun. Air dari berbagai aliran tersebut tetap ia terima dan berproses menjadi  ‘samudra’ yang jernih, menjadi ‘air kehidupan’, menjadi ‘wisdom’, dengan penuh mineral yang menyehatkan, tempat ikan, binatang dan tumbuhan laut hidup dan tumbuh.

Dalam wisdom (bijak) di situ ada kematangan, ketenangan, kesahajaan, kesalehan dan kekhusukan. Namun, sebagaimana samudra, ia terus bergelora, juga menyimpan karang-karang cadas, kukuh yang mencuat menantang matahari. Dia juga terus berombak, tak pernah kehabisan energi untuk menjilat menyapu pantai.

Itulah keteguhan prinsip, tanpa kompromi dan berenergi, yang terkadang harus dibayar mahal. Pembredelan Harian Prioritas dan tabloid politik Detik miliknya adalah konsekuensi dari keteguhan sikap vis a vis kekuasaan yang tambeng Orde Baru, kala itu.  

Tapi ia tak pernah kapok; ia tidak menangis meraung-raung, dan ia tidak duduk lemas di sudut nadir dan minta belas kasihan. Dia justru yakin; bahwa dunia ini ada dialektika; ada tesa, antitesa, selanjutnya bersintesa, dan muncullah tesa-tesa baru. Begitu seterusnya; bahwa apa yang terjadi hari ini tidaklah ajeg sebagaimana adanya hari ini, tapi akan terjadi mutasi-mutasi di kemudian hari. Kita harus sabar, iklas, tekun, dan belajar.

Karena ‘samudra’ itulah maka ia sungguh percaya diri, ia tidak pernah mau membungkuk dan menyodorkan upeti kepada siapapun termasuk pada kekuasaan, hanya untuk mendapatkan privilage. Tapi ia tak ragu sedikitpun untuk berulur tangan, berbagi, bahkan berkurban untuk kemanusiaan.

Banyak jejak dan tonggak kemanusiaan ia torehkan. Ribuan nyawa ia selamatkan, ribuan mulut ia beri kehidupan, dan kini jutaan manusia yang disebut bangsa ini telah dan akan terus ia nyalakan api semangatnya; semangat bersatu, kerja keras, toleran dan berbagi.

Ia adalah sosok yang terus bergulat untuk mencapai tujuan yang ia cita-citakan, yang menurutnya tidak pernah absurd. Bagi dia, tidak ada yang tidak mungkin. Semua cita-cita bisa digapai, asal kerja keras, tekun, telaten dan syukur. Ia telah membuktikannya, baik sebagai seorang pengusaha maupun politisi.

Bagi dia, ide dan gagasan haruslah berwujud menjadi tindakan. Hanya karena kemalasan, ide dan gagasan yang agung, sering berhenti sebagai ide dan gagasan. Maka dari itu ia sungguh benci melihat orang malas.

Itulah Bang Surya, panggilan akrabnya. Ia bagai samudra luas yang terus menerus bergelora, tak henti-hentinya melahirkan dan memperjuangkan cita-cita kebangsaan yang tak pernah usai ini.

Ia seorang nasionalis, religius, pluralis, perfeksionis, philanthropist. Dan itulah sejatinya Pancasila, yang ia ekspresikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, ia juga seorang yang hangat, periang, humoris dan juga jenaka. Kata-kata bijak, philosofis, strategis, tak jarang berselingan dengan kalimat-kalimat senda gurau yang hangat. Dan itulah keunggulan beliau dalam merangkai kalimat; spontan, genuine, dengan diksi yang tertata apik dan mengalir.

Pengalaman empirik yang demikian panjang, telah membentuk ritme pikir yang spontan, genuine, substantif dan tiada henti. Ia adalah sosok yang tidak pernah lelah berpikir dan menghasilkan gagasan-gagasan besar.  

Restorasi, politik gagasan, politik tanpa mahar adalah gagasan-gagasan besarnya, yang kini terus ia perjuangkan dalam menjalankan kepemimpinan Partai NasDem. Tidak mudah memang, bahkan ada yang menganggapnya konyol. Politik tanpa mahar misalnya, untuk sebagian (besar) orang dianggap halusinasi, di tengah-tengah moral politik yang demikian merosot.

Seorang ‘surya’ karena kehangatannya, siapapun mudah akrab dan betah berdiskusi dengannya. Sebaliknya, bagi beliau, siapapun orang didekatnya adalah kawan diskusi, sumber inspirasi. Diskusi baginya adalah vitamin yang menumbuh-suburkan ide dan gagasan. Untuk itu ia selalu menghadirkan ruang-ruang diskusi dalam suasana serius maupun riang gembira. Dari itu ia sering merasa ‘kesepian di tengah-tengah keramaian’, maka selalu hadir atau dihadirkan sahabat disampingnya. Ia tidak enjoy dengan kesendiriannya.

Dengan sosoknya yang tinggi besar, dan suara bariton keras menggelegar, maka lengkaplah ia sebagai orator yang ulung. Orang sering menyetarakannya dengan Soekarno, Sang Proklamator yang memang diakuinya menjadi salah satu idolanya.

Bang Surya kini berusia 70 tahun. Ada yang menganggapnya sebagai ‘usia istirahat’. Tapi bagi kami-kami, tidak!! Kami-kami yang terlanjur ‘ngrungkepi’ dan memeluk erat mimpi-mimpinya tentang negara-bangsa ini, akan tetap meminta kesediaanya untuk terus bersama kami.

Sejujurnya, kami-kami belum mampu secara sendiri-sendiri mengarungi samudramu. Kami tahu, ada hiu ganas, ular beracun, gas beracun, tapi sejatinya yang tahu persis adalah sang samudra itu sendiri.

Tentunya kami-kami tak minta lebih, atas tempaanmu, kami-kami bukanlah orang-orang cengeng. Tapi jujur, kami belum siap ‘disapih’, tubuh kami-kami belum cukup imun menghadapi gelombang kehidupan yang kian kompleks ini.  

“Selamat Ulang Tahun ke-70” Bang Surya. Dimensi waktu; pagi, siang, malam, adalah rahasia Illahi. Bagi Sang Surya ia akan terus bersinar; bumi, rembulan dan bintang-bintang adalah jagad saksi keperkasaanmu, saksi kehangatanmu, dan saksi hidup dan penghidupanmu. Dan semua itu atas ridho Sang Khalik, Sang Maha Besar, Sang Maha Pencipta Illahi Robbi..

*Catatan kecil dari orang yang sering dipanggil sebagai “Anak kecil bawa golok”.

Share: