Drs. T. Taufiqulhadi, M.Si

No.Anggota: A-19
Dapil: JATIM IV
Namanya sangat Aceh. Karakternya juga Aceh, hangat dan terbuka. Itulah sosok Teuku Taufiqulhadi, satu-satunya anggota DPR RI kelahiran Aceh yang terpilih ke Senayan dari daerah pemilihan Jawa Timur IV dari Partai NasDem. Perjalanan takdir manusia memang tak bisa diterka. Teuku Taufiqulhadi pernah dua kali mencalonkan diri ke Senayan dari Dapil Aceh 2 pada Pemilu 2004-2009 dan 2009-2014 dengan “kendaraan” Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tapi kandas. Tapi sebaliknya, hanya sekali melangkah dari Dapil Jatim 4, langsung terpilih tanpa ada yang menahan.

Pada tahun 2009, pria berkulit putih menamatkan program doktoral nya di FISIP Universitas Indonesia (UI). Turunan bangsawan dari Sigli, Teuku Taufiqulhadi lahir 17 Novembar 1960, menyelesaikan pendidikan sekoah dasar di Sigli, dan sekolah menengah di Banda Aceh. Dikaruniai tiga putra hasil pernikahannya dengan Khadijah, perempuan asal Peureulak, AcehTimur.

Memilih Kabupaten Jember menjadi daerah pemilihan, bukan tanpa pertimbangan. “Saya orang yang lama di Jember. Saya kuliah di Universitas Jember Fakultas Fisip dan menjadi Ketua Umum HMI Jember,” kenang Taufiqulhadi. Ia mahasiswa Univeritas Jember pada 1982-1986. Kemudian dia ditetapkan sebagai caleg dari Jember, itu adalah hasil pertimbangan sangat matang. Dia mengaku bekerja mempersiapkan diri sebagai caleg selama satu tahun, melibatkan banyak jaringan, mulai jaringan partai, mahasiswa dan jaringan kologe-kolega lama yang saat ini menjadi tokoh dan pemuka masyarakat di kabupaten tersebut.

Untuk merebut simpati dan hati masyarakat, Taufiqulhadi menyusuri dess dan kawasan pedalaman Jember dan menginap di desa bersama masyarakat.

Boleh jadi hanya Taufiqulhadi yang melkukan cara seperti itu dalam rangka mendapatkan simpati masyarakat. Ia mengaku persaingan menuju Senayan sangat tinggi. Di Jember terdapat tokoh populis Anang Hermansyah dari PAN dan Arief Wibowo, politisi berpengaruh dari PDI Perjuangan. “Sementara saya orang Aceh yang kebetulan kuliah di Jember dan harus bersaing dengan tokoh-tokoh seperti mereka, pasti sangat berat. Itulah sebabnya saya memilih masuk langsung ke desa dan berkenalan dekat dengan masyarakat,” tukas Taufiqulhadi.

Lama bekerja sebagai wartawan grup Media Indonesia (1989-2009), Taufiqulhadi telah melahirkan sejumlah buku salah satunya “Jerussalem, satu kota tiga Tuhan.” Buku tersebut merupakan apiran jurnalistiknya ketika bertugas di Palestina sekaligus menjalani pendidikan program jangka pendek empat bulan di Universitas Birzet di Ramallah, pada 1997.